Selasa, 18 Mei 2010

Untuk seseorang yang telah menggelisahkan malam-malamku.


Sesosok tubuh berdiri anggun, tegak di tepian kolam di suatu malam


Bulan bersembunyi di balik awan


Bulan merasa malu bersanding


Dengan elok paras hati teratai yang tegak di tepian kolam malam itu.



Duhai adinda teratai kolam maharaja, seekor kumbang legam terbuai harummu


Namun bagaimana dapat dia kenali, puspa mana yang binarkan malamnya


Berilah tanda, agar tak sesat sayap membawanya.



Di sudut lain,


Seorang lelaki berdiri di atas kertas basah malam itu


matanya berkaca-kaca menatap langit


Ditemani bayangan bulan, dan bayangannya sendiri


“apakah yang dicarinya? Siapakah yang dinantinya?”



Akhirnya malampun berlalu,


Teratai biru bercumbu dengan hangat mentari pagi


Kemanakah kumbang itu?



Di sudut lain kolam itu


Sang kumbang menahan perih


Sayapnya terluka diterpa angin semalam


Dan lukanya tembus hingga ke jantung


Mengintip dari kelopak matanya yang basah


Dalam hatinya berkata




“Karena tak mungkin bagiku memiliki harummu duhai puspa hati,


Biarlah aku memandangmu dari kejauhan


Ijinkan aku menatapmu ketika menari bersama mentari


Karena engkaulah cahaya itu bagiku”






Dan marilah bersiap tidur komang ady, sudah menjelang pagi, sudahilah angan-angan liar itu, karena embun yang kau ciptakan malam ini akan menguap esok hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar teman