Sesosok tubuh berdiri anggun, tegak di tepian kolam di suatu malam
Bulan bersembunyi di balik awan
Bulan merasa malu bersanding
Dengan elok paras hati teratai yang tegak di tepian kolam malam itu.
Duhai adinda teratai kolam maharaja, seekor kumbang legam terbuai harummu
Namun bagaimana dapat dia kenali, puspa mana yang binarkan malamnya
Berilah tanda, agar tak sesat sayap membawanya.
Di sudut lain,
Seorang lelaki berdiri di atas kertas basah malam itu
matanya berkaca-kaca menatap langit
Ditemani bayangan bulan, dan bayangannya sendiri
“apakah yang dicarinya? Siapakah yang dinantinya?”
Akhirnya malampun berlalu,
Teratai biru bercumbu dengan hangat mentari pagi
Kemanakah kumbang itu?
Di sudut lain kolam itu
Sang kumbang menahan perih
Sayapnya terluka diterpa angin semalam
Dan lukanya tembus hingga ke jantung
Mengintip dari kelopak matanya yang basah
Dalam hatinya berkata
“Karena tak mungkin bagiku memiliki harummu duhai puspa hati,
Biarlah aku memandangmu dari kejauhan
Ijinkan aku menatapmu ketika menari bersama mentari
Karena engkaulah cahaya itu bagiku”
Dan marilah bersiap tidur komang ady, sudah menjelang pagi, sudahilah angan-angan liar itu, karena embun yang kau ciptakan malam ini akan menguap esok hari.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar teman