Kamis, 13 Mei 2010

Tuhan, jangan ambil kakak yang aku hormati dan kasihi

Dua hari yang lalu, tepat sehari sebelum hari raya besar kami, kakak sepupuku........
[Aku menghormatinya, mengaguminya, terkadang menjadikannya panutan bagi langkah kakiku menjalani hidup. Sewaktu-waktu dia menjadi malaikat yang mengeluarkanku dari himpitan beban dari sang hidup. Juga rasa hormat atas ketegarannya menjalani hidupnya yang berat. Betapa disaat-saat gelapnyapun dia masih saja menjadi lilin bagi banyak handai taulan di sekelilingnya]............. mengalami kecelakaan.
Kendaraan roda dua yang dikendarainya sepulang kerja...... [kakak sepupuku ini seorang manager di sebuah lapangan Golf ternama di Bali, yang merintis karirnya dari tukang pangkas rumput di lapangan Golf]..... bertabrakan dengan sebuah kendaraan roda dua yang lain yang dikendarai seorang nona. Terlepas dari entah kakakku sedang ngebut karena kangen istri di rumah..... [maklum masih penganten baru, baru 1 bulan menikah].... atau memang naas yang fatal bagi keduanya, kakakku kini sudah dua hari tak sadarkan diri di rumah sakit. Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Nafas dan jalan darahnya, mungkin juga detak jantungnya dipacu dengan mesin-mesin berteknologi canggih di luar kemampuan otakku yang super mini. jadilah dia sebuah boneka yang bernafas... [aku menangis keras dalam hatiku, aku tak tega, juga tak rela ini terjadi pada orang yang berperan banyak dalam hidupku]... tanpa kesadaran. Kata dokter dia sedang tidur, karena pengaruh obat dosis tinggi yang diberikan . Keluarga kakakku memasrahkan hidup kakakku pada keahlian dan ketrampilan dokter-dokter spesialis yang menanganinya. Kami berkumpul di ruang tunggu rumah sakit, masing-masing berdoa dan berharap mukjizat akan datang saat ini. Semua wajah di ruang tunggu itu tampak kuyu, karena sedih, juga lelah karena bergiliran menjaga... [sebenarnya bukan menjaga, lebih tepatnya menunggu kabar perkembangan kondisi kakakku dari dokter, atau terkadang bertugas menandatangani pengambilan obat dan juga ke laboratorium untuk menyerahkan sample darah untuk diperiksa dan menunggu hasilnya sambil berharap cemas].
Oh ya, aku hampir lupa menceritakan kondisi fisik yang didapatnya dalam kecelakaan itu. Kaki kirinya patah di bawah lutut (dua tulang penyangga tubuh itu remuk dan mesti dipasangi alat yang aku tak mengerti, tampaknya seperti jalinan tiang listrik yang disemen. mungkin untuk mengokohkan posisi tulag sehabis operasi). Tangan kirinya juga patah pada lengan atas, yang terlihat hanya balutan gipsum. Yang mungkin lebih parah adalah tulang tengkorak di sekeliling mata kanannya, kata dokter tulang itu retak dan beberapa pecahannya sempat masuk ke bagian otak. kami tak mungkin tahu keadaan sebenarnya karena yang terlihat hanya balutan, tambalan, dan banyak sekali selang-selang juga kabel-kabel yang dihubungkan dari mesin ke tubuh kakakku itu. Saat menjenguknya di ruang ICU, kakiku gemetar, seperti tak yakin atau berharap ini semua hanya mimpi. Hatiku berteriak....Tuhan, tolong selamatkan kakakku. Teringat aku pada perjalanan hidupnya yang berat, juga istri yang sedang hamil yang baru dinikahinya sebulan lalu. Apa yang akan terjadi?! Jikapun kami beruntung kalau kakakku bisa diselamatkan, betapa hidupnya akan banyak berubah?! Dan betapa beran beban yang menantinya di depan...Oh, Tuhan, maafkan aku yang tak dapat menahan pikiran manusiaku untuk mengatakan Engkau berlebihan, terlalu berlebihan. Sekalipun aku sadar, kalau semua ini Engkau yang mengatur dan menguasai, juga menentukan. Maafkan aku yang sombong untuk berlagak protes. Sejujurnya Ya Engkau yang mengatur tumbuhnya bulu dan pengembaraan debu-debu, aku tak akan sanggup mengerti, mengapa Kau datangkan ini kepada orang yang begitu baik di mata kami. Tetapi dalam berlututku padaMu, aku tak surut meminta, bahkan jika aku berkuasa atas sedikit kekuasaanMu, aku tak kan malu memerintah... Selamatkan dan kembalikan dia pada kami yang menyayanginya.
Juga tolonglah gadis itu, yang tanpa sengaja tapi atas keteraturan yang Kau gariskan telah bertemu dalam kecelakaan itu.
Keduanya kini tergolek tak sadar di ruang yang berbeda dengan wajah-wajah cemas dari saudara yang menjenguk juga menunggu. Dan aku bernazar dalam hatiku............."?!?!?!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar teman