Selasa, 18 Mei 2010

Episode Untuk Bintang 2007 - Tentang dan buat seseorang

Tentang dan buat seseorang

memo suatu bulan di th 2007


(“adikku” yang sedang mencari)



Hingga kemarin….

Aku masih setia menunggu pertapaanku

Yang terasing dan kumuh di puncak bukit itu

Tempat dimana aku menghabiskan waktuku bertahun-tahun itu


Hingga kemarin….

Tak kubiarkan jantungku berdegup melebihi hidupku

Tak kubiarkan nadiku bergetar melebihi semangatku

Dan aku bisa


Tetapi..

Hingga kemarin…

Murai bersuara merdu itu

Datang dalam bayangan hingga ke mimpiku


Aku terbangun

Murai itu tepat didepanku

Berkicau teramat merdu

Mempesonaku


Dan……..

Ya Tuhan ! aku terpesona

Keindahan yang menaut jiwaku

Kecantikan paras bercahaya hati


Dan di sinilah aku kini

Tersadar dalam gemuruhku

Mataku memejam menahan debur

Menggubah syair demi rasa rinduku.


Duhai engkau yang bermata indah dan lembut, derai tawamu telah mengguncang kalbuku, cantik parasmu menggetarkan naluriku. Aku menggapai bayanganmu, walau aku tahu kau tak teraih olehku.

Episode Untuk Bintang - Sebuah Perjuangan Kecil Untuk Hatiku



Ada sebuah saat dimasa lalu,



Ketika hati menjadi raja atas hidupku,



Ketika idealisme memenuhi jiwaku,



Ketika kesetiaan adalah darah bagi kisahku.





Sebuah saat dimasa lalu,



Membayangi perjalananku hingga kini,



Saat rambut mulai dipengaruhi warna putih,



Saat topan masih sekali-sekali saja datang.





Tetapi tetap ada saat dimasa kiniku,



Erat berpagut dengan kisah lewat,



Yang tak sempat berkembang di pucuknya,



Yang terbuang disaat aku bersimpuhkan air dari mata jantungku.





Dan kiniku,



Tak lagi kepercayaan dapat kupegang,



Tak lagi jantung kuijinkan berkhayal,



Karena muakku sudah mengental.





Hiruk goda dan pesona kutepiskan,



Betapapun selalu mengiris nafasku,



Kadang bahkan mengurai pedih,



Terkadang bahkan menjerat dadaku.

Episode Untuk bintang....Dalung, 30 September 2007

Pagi yang perih





Semalam aku merindukanmu



Rindu yang tak tersampaikan



Rindu yang coba ku benamkan jauh di dasar kembaraku



Rindu yang liar karena tak mampu menyentuhmu





Pagi tadi, sebuah pesan membangunkanku



Pesan yang datang dari engkau yang semalam kurindukan



Cuma basa-basi mungkin buatmu



Atau sekedar ingin tahu seberapa kelam duniaku sekarang





Ingin kubalas pesanmu



Dan katakan aku baik-baik saja



Tapi itu akan sangat melukaiku



Karena sesungguhnya aku tidak baik-baik saja.





Aku masih merindukanmu



Masih mencintaimu dari kejauhan



Karena aku masih tahu



Cinta saja tidaklah cukup untuk merengkuh hatimu.





Akhirnya kutemukan



Akhirnya kutemukan



Sesosok wanita sempurna seperti yang bermain dalam angan-anganku



Tetapi sayang seribu sayang



Telah pula dia temukan, laki-laki yang sempurna untuk dirinya, dan itu bukan aku.





Kediri, Oct 3rd 07

Episode Untuk Bintang - 27 September 2007

Bintang kecilku



Belum juga mampu kuhilangkan bayanganmu bintang,



Sepertinya aku mesti berpasrah, atau mungkin mesti menyerah



Walau begitu besar kerinduanku padamu,



Tak ada lagi jalan yang terlihat untuk meraih hatimu.





Malam-malamku masih saja nyeri



Memandang bayangmu yang kudengar sedang bercumbu dengan bulan.



Kenapa aku masih saja berharap?!





Ukiran itu, bintang



Tak pernah dapat kuhapus



Meski telah kucoba berlari menjauh



Bahkan saat kubenamkan diri dalam riuh dan pikuknya duniaku.





Ah, terlalu naif mungkin



Jika kuharap kau ada di sini malam ini



Menyejukkan dadaku yang teramat sesak



Penuh dengan kerinduan akanmu.





Tetapi, bintang



Hanya harapku yang bisa menyentuhmu



Keterbatasan manusiaku menahan langkahku



Dan aku cuma bisa tertunduk pilu





Saat kata-kata itu kau ucap dulu,



Aku teramat mengerti



Bukan sosok seperti aku yang lagi dapat menggetarkan hatimu.



Dan aku hanya bisa mencoba mengerti





Sekarang,



Aku cuma bisa menahan deburan itu



Tak kan kuusik keceriaanmu



Biarlah kunikmati sendiri



Walau aku tak yakin aku akan bisa menjalaninya.





Sejak hari itu…



Kelanaku tak lagi mencari,



Sudah kutemukan keindahan yang kucari



Meski tak dapat kumiliki.







Selamat ulang tahun, bintang kecilku



Aku merindukanmu.



In the midle of nowhere



27 September 2007



Belum kudapat judul yang tepat



Kemana gerangan sang murai bermain



Tak terdengar suaranya dari kemarin



Sepi sekali dunia tanpa kicauannya



Seperti juga hati ………..hari ini







Semalam aku merenungi kegelisahanku



Kudapati diriku terapung dalam ketidakberdayaan



Dan aku mulai menertawakan diriku sendiri



Menertawakan keinginan2 yang berlomba meminta perhatianku







Kuamati satu persatu



Kusisihkan harapan2 yang tak sempat terpenuhi







Dan aku temukan satu mimpi yang ganjil



Mimpi yang seharusnya tak boleh ada di kepalaku







Ah, maafkan aku wahai murai bersuara merdu



Tak pantas aku memintamu mengunjungi gubuk kotorku



Jika selama ini aku selalu memintamu menunjukkan siapa adanya dirimu



Maka hari ini dengan tulus kumohonkan maafmu







Jika selama ini ingin ku pakaikan rantai dikakimu



Sekali lagi maafkanlah aku







Tentu saja kau jadi marah



Tentu saja jadi membisu



Karena keinginanku yang tak pantas itu



Karena kataku telah menyakitimu







Jika saja dapat kutarik kata2ku



Agar kembali ceria hatimu



Agar kembali bersinar hatiku mendengar suaramu







Aku berjanji



Takkan lagi kuulangi kebodohan itu



Takkan lagi kupaksakan hatiku



Meminta sesuatu hanya untuk memenuhi egoku







Masih bisakah kita menjadi teman?



ady

Untuk seseorang yang telah menggelisahkan malam-malamku.


Sesosok tubuh berdiri anggun, tegak di tepian kolam di suatu malam


Bulan bersembunyi di balik awan


Bulan merasa malu bersanding


Dengan elok paras hati teratai yang tegak di tepian kolam malam itu.



Duhai adinda teratai kolam maharaja, seekor kumbang legam terbuai harummu


Namun bagaimana dapat dia kenali, puspa mana yang binarkan malamnya


Berilah tanda, agar tak sesat sayap membawanya.



Di sudut lain,


Seorang lelaki berdiri di atas kertas basah malam itu


matanya berkaca-kaca menatap langit


Ditemani bayangan bulan, dan bayangannya sendiri


“apakah yang dicarinya? Siapakah yang dinantinya?”



Akhirnya malampun berlalu,


Teratai biru bercumbu dengan hangat mentari pagi


Kemanakah kumbang itu?



Di sudut lain kolam itu


Sang kumbang menahan perih


Sayapnya terluka diterpa angin semalam


Dan lukanya tembus hingga ke jantung


Mengintip dari kelopak matanya yang basah


Dalam hatinya berkata




“Karena tak mungkin bagiku memiliki harummu duhai puspa hati,


Biarlah aku memandangmu dari kejauhan


Ijinkan aku menatapmu ketika menari bersama mentari


Karena engkaulah cahaya itu bagiku”






Dan marilah bersiap tidur komang ady, sudah menjelang pagi, sudahilah angan-angan liar itu, karena embun yang kau ciptakan malam ini akan menguap esok hari.