Sore tadi….
Sang katak terbangun dari sebuah mimpi
Mimpi yang menghangatkan jantungnya
Membuatnya tersadar
Jika dia hanyalah seekor katak yg besar di comberan.
Betapa naif…
Ketika pada suatu saat
Seorang puteri kelana elok jelita
Datang menghampiri sang katak buruk rupa
Dan berkata “temani aku wahai katak pengembara”
Ah, sang katak terbuai…
Angannya melambung…
Berkhayal berubah menjadi seorang pangeran
Yang akan antarkan sang puteri pulang.
Katak jelata itu lupa diri
Terhanyut raut dan kata-kata indah dari bibir manis nan lembut itu
Kata-kata yang biasa di istana namun berarti kerinduan dalam bahasa sang katak
Kata-kata hiburan bagi puteri namun berarti buaian bagi kebodohan sang katak
Sang katak merangkai puisi
Persembahan dari nafasnya yang menderu
“Duhai Puteri permata hati
Jikalau tuan seekor elang perkasa
Maka cabik-cabiklah tubuh hamba
Untuk puaskan paruh lengkungmu,
Jika paduka sungai dimusim kemarau
Ambillah darah hamba
Agar tetap sungailah paduka bagi ikan-ikan
Dan jikalau mataharilah paduka,
Maka beristirahatlah sejenak di mata air kasih hamba
Ijinkan hamba basuhkan letih kembara paduka”
Dan puteripun tersenyum
Senyuman tak berwarna
Hingga dihari sebelum hari ini
Bau air comberan menyentakkannya
Seolah memperlihatkan sebuah cermin
Agar sang katak melihat dirinya
Itulah engkau katak jelata
Seekor katak yang besar di comberan
Dengan tubuh kotor dan jantung penuh luka
Janganlah berharap bintang turun dan menyapamu
Lalu mengajakmu menyambangi bulan
Jangan…
Karena engkau hanyalah seekor katak
Yang bermimpi menyanding bulan.
Satu-satunya hal yang dapat kau lakukan untuk memuaskan dahagamu
Berdoalah, agar dikehidupan mendatang engkau bisa menjadi alas kakinya
Hingga dapatlah engkau menyentuh lembut kulit sang puteri
Yang sempat dan masih terus kau puja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar teman